"Studi EHRA untuk mengetahui Indek Risiko Sanitasi (IRS) sebagai dasar dalam menentukan Area Berisiko Sanitasi," ungkap dr Ade.
Kemudian, menyusun strategi melibatkan peran masyarakat (Melalui STBM) dan swasta dalam pembangunan sanitasi di kabupaten/kota.
Baca Juga:
Bridgerton Musim 4 Raih Hampir 40 Juta Penonton dalam Empat Hari Penayangan
Menyusun strategi advokasi, komunikasi dan promosi higiene serta sanitasi yang berkelanjutan. Usaha penggalangan sinergi atau partisipasi antara penyedia layanan sanitasi.
Dan, mengetahui peluang pendanaan dalam pembangunan sanitasi. Studi EHRA ini juga, jelas dr Ade, untuk menciptakan kabupaten/kota sehat (KKS).
"Kabupaten/kota sehat adalah suatu kondisi kabupaten/kota yang bersih, nyaman, aman, dan sehat untuk dihuni penduduk, yang dicapai melalui terselenggaranya penerapan beberapa tatanan dengan kegiatan yang terintegrasi dan disepakati masyarakat bersama pemerintah daerah," ungkap dr Ade.
Baca Juga:
Film Shelter: Aksi Jason Statham dalam Pelarian Berdarah di Pulau Terpencil
Turut hadir di rapat tersebut, Kepala Dinas Kesehatan, dr Ade Budi Krista, Kepala Dinas Pemberdayaam Masyarakat dan Desa (PMD), Drs Khairul Azman MAP, dan perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait lainnya. [rum]
Ikuti update berita pilihan dan breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik t.me/WahanaNews, lalu join.