Sumut.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran mengapresiasi beroperasinya pabrik PT Evyap Sabun Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.
MARTABAT Prabowo-Gibran menilai investasi tersebut menjadi bukti bahwa kawasan ekonomi khusus mampu menarik industri berorientasi ekspor sekaligus memperkuat hilirisasi komoditas nasional.
Baca Juga:
Depok Kembangkan Pengolahan Sampah Jadi Bahan RDF, MARTABAT Prabowo-Gibran: Perlu Diperluas ke Daerah Lain
“Beroperasinya pabrik Evyap menunjukkan bahwa kepercayaan investor global terhadap Indonesia terus tumbuh ketika pemerintah mampu menghadirkan kepastian usaha, infrastruktur, dan pelayanan investasi yang terintegrasi,” kata Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, Sabtu (18/7/2026).
Menurut Tohom, investasi senilai sekitar 130 juta dolar Amerika Serikat atau setara Rp2,33 triliun tersebut memiliki arti strategis bagi pengembangan industri berbasis kelapa sawit di Sumatera Utara.
Ia mengatakan pembangunan industri pengolahan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas sawit agar Indonesia tidak hanya bergantung pada ekspor bahan mentah.
Baca Juga:
Mediasi Gagal, Korban Pengeroyokan Tolak Damai, Minta Pelaku Diproses Hukum
“Indonesia harus terus bergerak dari negara pengekspor bahan baku menjadi pusat produksi barang bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar internasional,” ujarnya.
Pabrik PT Evyap Sabun Indonesia akan memproduksi fatty acids, gliserin, soap noodles atau bahan baku sabun, serta berbagai produk jadi berbasis kelapa sawit.
Tohom menilai ragam produk tersebut memperlihatkan besarnya peluang Indonesia membangun rantai industri sawit dari sektor hulu hingga produk konsumen.
Ia berpandangan hilirisasi yang kuat dapat meningkatkan penerimaan negara, membuka pasar baru, serta menciptakan lapangan kerja yang lebih berkualitas bagi masyarakat daerah.
“Nilai investasi yang besar harus diterjemahkan menjadi manfaat nyata berupa penyerapan tenaga kerja lokal, peningkatan kemampuan tenaga kerja, serta tumbuhnya usaha pendukung di sekitar kawasan,” katanya.
Tohom juga mendorong pengelola KEK Sei Mangkei untuk memperkuat kemitraan antara perusahaan besar dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Sumatera Utara.
Menurutnya, keberadaan industri besar akan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas apabila kebutuhan logistik, jasa, makanan, transportasi, dan pemeliharaan turut melibatkan pengusaha lokal.
Pabrik Evyap mulai dibangun pada Maret 2023 dan membutuhkan waktu sekitar tiga tahun hingga resmi beroperasi pada Juli 2026.
Perusahaan tersebut menyebut fasilitas dan layanan terintegrasi di KEK Sei Mangkei membantu mempercepat proses pembangunan pabrik dibandingkan lokasi industri lainnya.
Tohom mengatakan model layanan satu pintu harus terus diperkuat agar investor tidak menghadapi proses perizinan yang panjang dan tumpang tindih.
“Kemudahan investasi harus tetap berjalan bersama pengawasan lingkungan, kepatuhan ketenagakerjaan, dan perlindungan terhadap kepentingan masyarakat di sekitar kawasan,” ucapnya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa pembangunan KEK perlu diselaraskan dengan pengembangan wilayah penyangga agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di dalam kawasan industri.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu menyiapkan konektivitas jalan, permukiman, transportasi publik, fasilitas pendidikan, dan layanan kesehatan untuk mengantisipasi pertumbuhan aktivitas ekonomi.
“KEK harus menjadi pusat pertumbuhan baru yang menggerakkan kabupaten dan kota di sekitarnya, bukan menjadi kawasan industri yang berdiri sendiri tanpa hubungan kuat dengan ekonomi lokal,” katanya.
Dengan tiga fasilitas produksi, Evyap memiliki kapasitas produksi gabungan mencapai sekitar 650.000 ton per tahun.
Saat ini, Evyap Life Chemistry tercatat melayani lebih dari 600 pelanggan yang tersebar di 55 negara.
Tohom menilai jaringan pasar internasional tersebut membuka peluang bagi KEK Sei Mangkei untuk memperkuat posisinya sebagai basis produksi dan ekspor industri oleokimia.
Ia juga mendorong pemerintah menjaga pasokan energi, air, pelabuhan, dan infrastruktur logistik agar kegiatan produksi dapat berjalan secara efisien dan berkelanjutan.
“Keandalan listrik dan konektivitas logistik menjadi faktor utama karena industri berkapasitas besar membutuhkan kepastian operasional setiap hari,” ujarnya.
Dewan Nasional KEK mencatat realisasi investasi kumulatif di KEK Sei Mangkei hingga kuartal I 2026 telah mencapai Rp31,8 triliun.
Kawasan tersebut juga telah menciptakan sekitar 14.689 lapangan kerja bagi masyarakat.
Tohom berharap capaian tersebut terus meningkat melalui masuknya industri baru yang memiliki orientasi hilirisasi, ekspor, transfer teknologi, dan penguatan sumber daya manusia.
“Keberhasilan KEK harus dinilai dari besarnya manfaat yang dirasakan masyarakat, kualitas pekerjaan yang tercipta, serta kemampuan kawasan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan,” pungkasnya.
[Redaktur: Sandy]