"Masyarakat harus menjadi bagian dari ekosistem, bukan sekadar penonton. Pemberdayaan lokal akan menciptakan rasa memiliki, sehingga kebersihan dan kualitas layanan dapat terjaga secara alami," tambahnya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa pengembangan kawasan wisata seperti Danau Toba harus berbasis tata kelola terpadu lintas sektor.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Sebut Kunjungan Wisata ke Lebak Banten Berdampak Positif Terhadap Peningkatan Kawasan KEK Tanjung Lesung
"Kita butuh orkestrasi kebijakan antara pemerintah pusat, daerah, dan otorita kawasan. Tanpa itu, pembangunan akan berjalan sendiri-sendiri dan tidak menghasilkan dampak maksimal. Danau Toba harus dikelola sebagai satu kesatuan ekosistem destinasi kelas dunia," tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengapresiasi langkah pemerintah daerah yang mulai melakukan penataan dan pemasangan imbauan kebersihan, namun mengingatkan bahwa konsistensi adalah kunci utama.
"Jangan berhenti di seremoni atau momentum liburan saja. Harus ada standar operasional yang jelas, monitoring rutin, dan evaluasi berkala agar kualitas destinasi terus meningkat," tutupnya.
Baca Juga:
Kemlu Gencarkan Promosi BBTF 2026 ke 132 Negara, Bidik Puluhan Buyer Global
Sebelumnya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toba melakukan penataan kawasan wisata Bukit Singgolom di Desa Lintong Nihuta, Kecamatan Tampahan, dengan melibatkan pemerintah desa dan masyarakat melalui kegiatan gotong royong.
Penataan meliputi pembersihan area serta pemasangan imbauan agar pengunjung tidak membuang sampah sembarangan.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan pengembangan destinasi baru seperti Pantai Pasir Putih Tarabunga guna menambah daya tarik wisata di kawasan tersebut.