“Penguatan DPSP tidak boleh hanya berhenti pada event besar atau promosi internasional. Fondasinya adalah kesiapan daerah. Jika listrik stabil, air bersih cukup, akses mudah, dan lingkungan terjaga, maka kelas dunia itu hadir dengan sendirinya,” terangnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sinergi antarsektor, termasuk penyusunan DED Amphiteater, Masterplan KEK Pariwisata Danau Toba, serta pengembangan fasilitas publik, harus dikawal dengan pengawasan dan evaluasi berkelanjutan.
Baca Juga:
Tren Wisata Berubah, Kini Bukan Banyak Tempat tapi Makna Perjalanan
“Danau Toba adalah aset nasional. Jika ditangani dengan visi panjang, ini akan menjadi lompatan besar menuju Indonesia Emas 2045,” imbuhnya.
Tohom menilai bahwa event-event internasional yang dijadwalkan pada 2026 -- dari F1H2O hingga Trail of the Kings by UTMB -- harus dijadikan momentum percepatan pembangunan dan bukan hanya kegiatan seremonial.
“Ketika wisatawan dunia datang, yang mereka lihat bukan hanya atraksi, tapi kesiapan sistem. Di situlah reputasi pariwisata Indonesia dibangun,” tegasnya.
Baca Juga:
Pemerintah Perkuat Sinkronisasi Master Plan Danau Toba, MARTABAT Prabowo-Gibran: Momentum Transformasi Pariwisata
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]