Sumut.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo–Gibran merespons positif pencanangan Gerakan Indonesia ASRI (aman, sehat, resik, dan indah) di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara.
Gerakan tersebut dinilai sejalan dengan visi besar pemerintahan Prabowo–Gibran dalam memperkuat tata kelola kawasan strategis nasional, khususnya Kawasan Otorita Danau Toba sebagai destinasi pariwisata berkelas dunia yang berkelanjutan.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo–Gibran Apresiasi Lonjakan Investasi Jakarta, Aglomerasi Jabodetabekjur Dinilai Kian Strategis bagi Ekonomi Nasional
MARTABAT Prabowo–Gibran menilai, aksi bersih massal yang dipimpin Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya di Pantai Bebas Parapat bukan hanya agenda simbolik, melainkan bentuk konkret penerjemahan arahan Presiden RI Prabowo Subianto terkait perubahan perilaku dan budaya lingkungan, terutama di wilayah destinasi prioritas.
Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo–Gibran, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa Indonesia ASRI harus dipahami sebagai gerakan perubahan cara pandang dalam mengelola kawasan strategis, bukan sekadar kegiatan kebersihan sesaat.
“Danau Toba adalah wajah Indonesia di mata dunia. Ketika kita bicara kawasan otorita, maka yang kita bangun bukan hanya infrastrukturnya, tetapi juga budaya bersih, tertib, dan berkelanjutan. Indonesia ASRI menjadi pintu masuk penting ke arah itu,” ujar Tohom, Minggu (8/2/2026).
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo–Gibran: Kolaborasi Pusat–Daerah Percepat TOD Tangerang dalam Ekosistem Jabodetabek
Menurut Tohom, keberhasilan Kawasan Otorita Danau Toba tidak bisa dilepaskan dari partisipasi aktif seluruh elemen, mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan, pelaku usaha, hingga masyarakat lokal.
Ia menilai kolaborasi lintas sektor seperti yang terlihat dalam aksi bersih massal tersebut merupakan model ideal tata kelola kawasan strategis nasional.
“Arahan Presiden Prabowo jelas: pembangunan harus berdampak langsung, berkelanjutan, dan dirasakan rakyat. Danau Toba tidak boleh hanya indah saat dikunjungi pejabat atau event besar, tapi harus terawat setiap hari oleh kesadaran kolektif,” katanya.
Tohom juga menyoroti bahwa Gerakan Indonesia ASRI relevan dengan tantangan utama kawasan Danau Toba saat ini, yakni pengelolaan sampah, tekanan lingkungan, dan konsistensi kebijakan antarwilayah.
Ia menilai, kawasan otorita membutuhkan standar bersama yang ditaati lintas kabupaten dan kota.
“Jika setiap daerah bergerak sendiri-sendiri, hasilnya tidak akan maksimal. Indonesia ASRI harus menjadi standar etika lingkungan di seluruh kawasan Danau Toba,” tegasnya.
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini menambahkan bahwa isu kebersihan tidak dapat dipisahkan dari daya dukung ekosistem dan keberlanjutan energi kawasan.
Ia mengingatkan bahwa pencemaran lingkungan akan berdampak langsung pada kualitas air, kesehatan masyarakat, hingga keberlangsungan pariwisata jangka panjang.
“Lingkungan yang rusak akan menciptakan biaya energi dan sosial yang jauh lebih mahal. Menjaga Danau Toba berarti menjaga sumber kehidupan, ekonomi lokal, dan masa depan kawasan otorita itu sendiri,” jelas Tohom.
Ia berharap Gerakan Indonesia ASRI dapat diinstitusionalisasi menjadi agenda rutin, bukan hanya di Parapat, tetapi di seluruh zona Danau Toba.
Menurutnya, konsistensi inilah yang akan memperkuat posisi Danau Toba sebagai destinasi unggulan nasional dan internasional, sejalan dengan visi besar pemerintahan Prabowo–Gibran.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]