Sumut.WAHANANEWS.CO - Program strategis konservasi alam yang dijalankan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) di kawasan daerah tangkapan air (DTA) Danau Toba mendapat respons positif dari Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran.
Inisiatif tersebut dinilai sejalan dengan arah kebijakan penguatan kawasan otorita Danau Toba sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas yang membutuhkan keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan keberlanjutan ekologis.
Baca Juga:
Polda Jambi Gelar Audiensi dengan PGRI, Bahas Perlindungan Guru dan Penyelesaian Kasus Secara Mediasi
Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa konservasi Danau Toba tidak bisa diletakkan sebagai program sektoral semata.
“Apa yang dilakukan Inalum menunjukkan pendekatan pembangunan yang matang, karena menempatkan Danau Toba sebagai sistem kehidupan, bukan sekadar objek pariwisata,” ujar Tohom, Senin (26/1/2026).
Menurut Tohom, kolaborasi antara Inalum dan Perum Jasa Tirta 1 dalam menjaga DTA Danau Toba mencerminkan model ideal sinergi BUMN, masyarakat, dan pemangku kepentingan kawasan otorita.
Baca Juga:
Kelelahan Usai Selamatkan 4 Rekan, Mahasiswi Tewas di Danau Toba
Pendekatan ini dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan air, tanah, dan keanekaragaman hayati yang menjadi fondasi ekonomi lokal.
Ia menyoroti pembangunan ribuan biopori, ratusan sumur resapan, serta sumur injeksi sebagai langkah konkret yang berdampak langsung terhadap ketahanan air di kawasan hulu Danau Toba.
“Konservasi berbasis data dan infrastruktur hijau seperti ini adalah prasyarat mutlak bagi kawasan otorita. Tanpa daya dukung lingkungan yang kuat, narasi pariwisata kelas dunia akan rapuh,” katanya.
Tohom juga menilai program edukasi lingkungan dan penguatan kapasitas masyarakat, termasuk Sekolah Peduli Lingkungan dan pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA), sebagai investasi sosial jangka panjang.
Menurutnya, keberhasilan pengelolaan Danau Toba sangat ditentukan oleh partisipasi warga di tujuh kabupaten se-Sumatera Utara yang berada di lingkar danau.
Tohom yang juga Ketua Aglomerasi Watch ini menambahkan bahwa konservasi DTA Danau Toba harus terintegrasi dengan perencanaan aglomerasi wilayah.
“Danau Toba tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan sistem permukiman, pertanian, energi, dan pariwisata. Program Inalum memberi contoh bagaimana pengelolaan kawasan otorita seharusnya dilakukan secara lintas sektor dan lintas wilayah,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa penanaman 420.000 pohon di lahan seluas 1.050 hektare bukan hanya soal rehabilitasi lahan, tetapi juga tentang membangun ketahanan iklim dan mencegah risiko bencana ekologis di masa depan.
Langkah tersebut, kata Tohom, perlu dikawal agar konsisten dan berkelanjutan.
“Pada akhirnya, menjaga Danau Toba berarti menjaga martabat Sumatera Utara dan Indonesia. Ketika korporasi, negara, dan masyarakat bergerak dalam satu visi, kawasan otorita Danau Toba akan benar-benar menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang,” pungkasnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]