Tohom juga menilai program edukasi lingkungan dan penguatan kapasitas masyarakat, termasuk Sekolah Peduli Lingkungan dan pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA), sebagai investasi sosial jangka panjang.
Menurutnya, keberhasilan pengelolaan Danau Toba sangat ditentukan oleh partisipasi warga di tujuh kabupaten se-Sumatera Utara yang berada di lingkar danau.
Baca Juga:
Polda Jambi Gelar Audiensi dengan PGRI, Bahas Perlindungan Guru dan Penyelesaian Kasus Secara Mediasi
Tohom yang juga Ketua Aglomerasi Watch ini menambahkan bahwa konservasi DTA Danau Toba harus terintegrasi dengan perencanaan aglomerasi wilayah.
“Danau Toba tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan sistem permukiman, pertanian, energi, dan pariwisata. Program Inalum memberi contoh bagaimana pengelolaan kawasan otorita seharusnya dilakukan secara lintas sektor dan lintas wilayah,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa penanaman 420.000 pohon di lahan seluas 1.050 hektare bukan hanya soal rehabilitasi lahan, tetapi juga tentang membangun ketahanan iklim dan mencegah risiko bencana ekologis di masa depan.
Baca Juga:
Kelelahan Usai Selamatkan 4 Rekan, Mahasiswi Tewas di Danau Toba
Langkah tersebut, kata Tohom, perlu dikawal agar konsisten dan berkelanjutan.
“Pada akhirnya, menjaga Danau Toba berarti menjaga martabat Sumatera Utara dan Indonesia. Ketika korporasi, negara, dan masyarakat bergerak dalam satu visi, kawasan otorita Danau Toba akan benar-benar menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang,” pungkasnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]