Ia mengingatkan, tanpa strategi yang matang, KEK Sei Mangkei berisiko hanya menjadi ‘pulau industri’ yang terputus dari denyut ekonomi lokal.
“Kalau hanya membangun pabrik tanpa mengikatnya pada rantai pasok lokal, maka kita akan kehilangan efek ganda ekonomi. Yang kita butuhkan adalah jembatan antara industri dan rakyat, bukan tembok yang memisahkan keduanya,” tuturnya.
Baca Juga:
Project Manager PT NCP Berikan Klarifikasi Terkait Sorotan Proyek Rigid Pavement Jalan Surfaktan di KEK Sei Mangkei
Tohom juga menyoroti pentingnya peran pemerintah daerah dalam memfasilitasi kemitraan industri-UMKM.
Menurutnya, pelatihan di BBPVP Medan maupun BLK provinsi harus diarahkan pada kebutuhan nyata pasar industri agar UMKM bisa masuk rantai pasok secara berkelanjutan.
“Jangan sampai UMKM kita cuma jadi pemasok musiman, harus dipastikan mereka jadi mitra strategis yang punya daya tawar,” ujarnya.
Baca Juga:
Sudah Retak!! Proyek Rigid Pavement di KEK Sei Mangkei Diduga Amburadul, Pengawasan Unit PISMK Dipertanyakan
Sebelumnya, Kepala Administrator KEK Sei Mangkei, Elfi Haris, menyampaikan bahwa 60 persen tenaga kerja yang terserap di kawasan ini berasal dari Kabupaten Simalungun.
Pihaknya berkomitmen meningkatkan peran UMKM lokal melalui koordinasi dengan OPD dan penyaluran CSR dari pelaku usaha yang sudah beroperasi.
Menutup pernyataannya, Tohom menyebut KEK Sei Mangkei sebagai laboratorium ekonomi terpadu