SUMUT.WAHANANEWS.CO - Proyek pembangunan rest area Tol Medan-Binjai yang dikerjakan oleh PT HKI kembali menuai kontroversi. Kali ini, sorotan tertuju pada dugaan pencurian arus listrik yang berujung pada pencopotan kWh meter oleh PLN. Kejadian ini memunculkan pertanyaan besar: apakah proyek pembangunan berskala besar seperti ini dapat mengandalkan satu kWh meter? Dan mengapa pimpinan proyek, Sunardi, memilih bungkam saat dikonfirmasi kembali?
Pasca pemutusan arus dan pencopotan kWh meter, Taufik bersama teman-temannya menggunakan genset untuk keperluan pekerjaan sebagai pengganti arus listrik dari PLN.
Baca Juga:
Staf Ahli Wali Kota Hadiri Festival 'Wonder Verse 2024' di SMAN 1 Binjai
"Untuk sekarang kami menggunakan Genset, lah bang," ujarnya, Selasa (22/10/2024).
Kejanggalan Satu kWh Meter
Sebelumnya pihak PLN saat dikonfirmasi telah memastikan bahwa mereka telah memutus arus dan mencopot kWh meter di salah satu ruang kerja di kawasan pembangunan rest area. Namun Sunardi membuat pernyataan yang berbeda saat dikonfirmasi sebelumnya, ia mengaku bahwa proyek pembangunan rest area Tol Medan-Binjai hanya memiliki satu kWh meter.
Baca Juga:
Pemkot Mojokerto Tampilkan Keunggulan Kota Sehat pada Verifikasi KKS Jawa Timur
Namun, saat dikonfirmasi kembali Sunardi setelah adanya pernyataan dari pihak PLN, pada Sabtu (19/10/2024) hingga berita ini diterbitkan, pimpinan proyek, memilih bungkam. Kebungkaman ini semakin menguatkan dugaan adanya ketidaktransparanan dalam pengelolaan proyek, saat dikonfirmasi.
Tanda Tanya?
Pengakuan Sunardi bahwa proyek pembangunan rest area Tol Medan-Binjai hanya memiliki satu kWh meter menjadi tanda tanya besar. Apakah mungkin proyek pembangunan rest area tol Medan-Binjai dengan berbagai aktivitas konstruksi hanya mengandalkan satu kWh meter? Atau apakah ada yang tersembunyi di balik pernyataan Sunardi terkait penggunaan satu kWh meter?.
Sebelumnya diberitakan dari data yang diperoleh sebanyak tiga unit mobil dari PLN mendatangi lokasi kerja pembangunan rest area Tol Medan-Binjai, mereka melakukan pemutusan salah satu arus listrik dan mencopot KWH meter yang ada di lokasi pembangunan tersebut. Pekerjaan proyek pembangunan rest area itu dibangun oleh PT HKI (Hutama Karya Infrastruktur) yaitu salah satu anak perusahaan dari BUMN PT Hutama Karya.
Saat dikonfirmasi via WhatsApp, Sunardi membantah adanya pemutusan listrik di lokasi kerja pembangunan rest area Medan Binjai.
"Sebenarnya saya nggak paham, sampai sekarang saya juga bayar terus sama PLN dan PLN tidak pernah mutus listrik, coba bapak lihat di kantor saya," ujarnya.
Saat diberikan salah satu foto petugas P2TL sedang mencopot KWH meter yang ada di salah satu lokasi kerja pembangunan rest area Jalan Tol Medan Binjai. Sunardi mengaku lagi lagi tidak paham.
"Saya nggak paham, kalau yang itu, kalau saya dengan PLN tidak pernah ada masalah, waktunya bayar ya bayar," ujarnya. Pernyataan ketidak pahaman membuat pertanyaan publik, apakah pihak PT HKI ada melakukan pengawasan dan pengontrolan didalam pembangunan rest area Medan Binjai?
Sunardi pun menyampaikan pihaknya ada bekerja sama dengan pihak PLN, hingga sekarang tidak ada diputus.
"Saya ada kerjasama dengan pihak PLN, sampai sekarang tidak ada diputus, makanya kalau bapak bilang diputus yang mana?," ucapnya.
Ia pun tetap bersikukuh tidak adanya pemutusan, dengan membuktikan bahwa listriknya masih menyala.
"Bapak coba cek di lapangan, listrik saya masih menyala terus, saya juga masih dikantor ini, listrik saya masih nyala terus," jelasnya.
Informasi di lapangan adanya pencopotan salah satu KWH meter di salah satu ruangan di wilayah kerja pembangunan rest area. Uniknya Sunardi berdalih dalam pengakuannya hanya satu KWH saja digunakan untuk seluruh pembangunan rest area Tol Medan-Binjai.
"Saya cuma punya satu KWH saja, kalau diputus satukan, ya mati semua, makanya yang mana yang bapak maksudkan," tuturnya.
Ia juga menerangkan bahwa pihaknya jika ada pemutusan adanya pemberitahuan terlebih dahulu.
"Ada pemberitahuan, tapi selama ini tidak ada pemberitahuan pemutusan, kita malu pak kalau listrik diputus, malu," akunya.
Pernyataan Sunardi terbantahkan langsung oleh salah satu pekerja yang ada di lokasi pembangunan tersebut, saat dikonfirmasi Taufik membenarkan adanya pemutusan salah satu arus listrik dan mencopot KWH meter di salah satu kawasan pembangunan rest area tol Medan Binjai.
"Ya bang, benar, tadi ada pemutusan arus listrik dan pencopotan KWH meter dari PLN bang, kejadian itu terjadi di ruang kerja kami, petugas datang dan memutus arus serta mencopot KWH meter di sini," akunya.
Sambung Taufik menjelaskan saat ia mempertanyakan kepada petugas P2TL dari PLN, petugas itu menyatakan ada pemakaian kelebihan arus.
"Kata petugas itu ada pemakaian kelebihan arus, kubilang aja ke petugas itu, to the point aja bang ada dugaan pencurian aruskan?," jelasnya.
Ia pun kembali mempertanyakan kepada petugas itu, apa permasalahannya? apa sehingga ada pencopotan KWH meter di ruang kerjanya, padahal menurutnya kabel yang nyantel itu terjadi di kabel listrik yang menghubungkan dari listrik depan menuju ke ruang kerjanya.
"Kutanya masalah dengan kami apa, kalau terjadi pencurian arus di meteran ini boleh dicopot, silahkan dicopot. Kan diluar yang nyantel kabelnya, itu aja yang diputuskan, kenapa aliran listrik kami diputus dan meteran kami yang diambil," ucapnya.
Akibat pemutusan tersebut, pekerjaan yang dikerjakan di pembangunan rest area adalah kawasan Proyek Strategis Nasional terhambat dan tentunya pekerjaan ini masih banyak menggunakan daya listrik.
"Saat ini yang paling berdampak di pembangunan kita ada di utilitas yang sedang ada pengelasan, itu yang paling berdampak," ungkapnya.
Saat dikonfirmasi Eko yang mengaku sebagai Tim leader P2TL di ULP Helvetia membenarkan pihaknya lah yang melakukan pencopotan KWH meter yang ada di lokasi pembangunan rest area itu.
"Benar, dan kedatangan kita itu sudah berapa kali lah, yang pertama kali kami datang tanggal 5 bulan 9 tahun 2024, kita temukan kelainan, kelainan yang dimaksud ada ditemukan panel yang tidak terukur meteran dan tersambung ke kabel SR, jadi kita lakukan pemutusan di panel nya langsung di lokasi yang sama dilakukan pemutusan yang kedua," ujarnya, Jumat (18/10/2024).
Pihaknya juga terang Eko menjelaskan telah meninggalkan surat berita acara, dan kita sudah layangkan surat hingga tiga kali, dan kemarin kita melakukan pemutusan," ucapnya.
Eko juga mengakui bahwa adanya panel yang menggantung ke kabel SR itu ada di wilayah Pembangunan HKI.
"Kalau menurut saya itu masuk wilayah HKI," akunya, sembari ia juga menjawab bahwa KWH meter tersebut dicopot oleh pihaknya masih di wilayah pembangunan rest area.
Kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai pengawasan dan pengontrolan yang dilakukan oleh PT HKI dalam pembangunan rest area Tol Medan-Binjai. Jika memang terjadi pencurian arus listrik, mengapa hal ini tidak terdeteksi lebih awal oleh pihak PT HKI? Apakah ada kelalaian dalam pengawasan yang menyebabkan kejadian ini?
Peristiwa ini juga menunjukkan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam proyek pembangunan strategis nasional. Penting bagi PT HKI untuk memberikan penjelasan yang jelas dan transparan kepada publik mengenai kejadian ini, serta langkah-langkah yang akan diambil untuk mengatasi masalah tersebut.
Peristiwa ini diharapkan menjadi pelajaran bagi semua pihak yang terlibat dalam proyek pembangunan strategis nasional. Penting untuk memastikan bahwa proyek-proyek tersebut dijalankan dengan profesionalisme, transparansi, dan akuntabilitas yang tinggi. Hal ini akan membantu mencegah terjadinya kesalahan dan kerugian yang lebih besar di masa depan.
[Redaktur : Hadi Kurniawan]