Sumut.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran mengapresiasi suksesnya penyelenggaraan Trail of The Kings Lake Toba - Indonesia pada 12–14 Juni 2026 di kawasan Danau Toba, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara.
Kegiatan tersebut dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi Danau Toba sebagai destinasi wisata olahraga kelas dunia.
Baca Juga:
Ancaman Kematian Massal Ikan di Danau Toba, MARTABAT Prabowo-Gibran: Butuh Sistem Peringatan Dini Modern
Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, mengatakan keberhasilan Sumatera Utara menggelar ajang lari lintas alam internasional tersebut membuktikan bahwa Danau Toba memiliki daya saing global, bukan hanya dari sisi keindahan alam, tetapi juga kesiapan menjadi panggung sport tourism berkelas dunia.
“Trail of The Kings Lake Toba - Indonesia adalah bukti bahwa Danau Toba bukan hanya destinasi wisata alam, tetapi juga arena prestasi, diplomasi budaya, dan penggerak ekonomi rakyat,” ujar Tohom, Selasa (16/6/2026).
Menurut Tohom, sport tourism merupakan salah satu pintu masuk strategis untuk memperluas dampak ekonomi pariwisata karena mampu menggerakkan hotel, transportasi, UMKM, kuliner, ekonomi kreatif, pemandu lokal, hingga promosi daerah secara berkelanjutan.
Baca Juga:
Mengenang Sosok Pelawak Legendaris Dan Opera Batak Gomong Sinaga
“Ketika pelari dari berbagai negara datang ke Danau Toba, mereka tidak hanya mengikuti lomba, tetapi juga membawa cerita, pengalaman, foto, video, dan jaringan promosi yang nilainya sangat besar bagi pariwisata Indonesia,” kata Tohom.
Ia menilai keikutsertaan Trail of The Kings Lake Toba - Indonesia sebagai bagian dari Ultra-Trail du Mont-Blanc 2026 Seri Dunia menjadi sinyal kuat bahwa Danau Toba semakin diakui dalam kalender olahraga internasional.
“Masuk dalam jejaring event dunia seperti UMTB adalah peluang emas, sehingga pemerintah daerah, pelaku pariwisata, komunitas olahraga, dan masyarakat lokal harus menjaga kualitas penyelenggaraan agar Danau Toba terus dipercaya menjadi tuan rumah event global,” ucapnya.
Ajang Trail of The Kings Lake Toba - Indonesia digelar di Waterfront City, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, dan melombakan enam kategori, yakni 100 kilometer, 60 kilometer, 28 kilometer, 10 kilometer, 5 kilometer, serta kategori anak-anak.
Dalam kategori 100 kilometer, pelari asal Jepang Hiroyuki Matsuda menjadi juara pertama dengan catatan waktu 12 jam 45 menit 22 detik, disusul pelari Indonesia Sobari Herdiana dengan waktu 13 jam 02 menit 26 detik, dan Priya Rai dengan waktu 13 jam 17 menit 18 detik.
Untuk kategori 60 kilometer, pelari Indonesia Yusri Nanda menjadi yang tercepat dengan waktu 7 jam 30 menit 17 detik, disusul Hardiman Purba dengan waktu 8 jam 9 menit 32 detik, dan Jiahan Ma dari China dengan waktu 8 jam 46 menit 25 detik.
Tohom mengatakan keberhasilan atlet Indonesia bersaing di ajang tersebut juga menjadi pesan positif bahwa sport tourism dapat sekaligus menjadi ruang pembinaan prestasi olahraga nasional.
“Event seperti ini harus dilihat sebagai ekosistem, karena di dalamnya ada pariwisata, olahraga, promosi daerah, pemberdayaan masyarakat, dan kebanggaan nasional,” ujar Tohom.
Ia menilai testimoni Hiroyuki Matsuda yang mengaku terpukau dengan keindahan Danau Toba dan berencana kembali membawa orang lain untuk mengikuti perlombaan serupa merupakan promosi internasional yang sangat kuat.
“Pernyataan pelari internasional yang ingin kembali ke Danau Toba adalah promosi organik yang tidak ternilai, karena pengalaman langsung peserta sering kali lebih meyakinkan daripada kampanye promosi biasa,” katanya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa pengembangan Danau Toba sebagai destinasi sport tourism harus ditopang konektivitas wilayah, penataan kawasan, kebersihan, akses transportasi, kualitas homestay, serta kesiapan layanan publik di sekitar destinasi.
“Danau Toba harus dikelola dengan visi kawasan, karena wisatawan tidak hanya datang ke satu titik lomba, tetapi bergerak melalui jaringan jalan, pelabuhan, penginapan, ruang publik, desa wisata, dan pusat ekonomi lokal,” ucap Tohom.
Menurutnya, keberhasilan event internasional tidak boleh berhenti pada seremoni, tetapi harus dilanjutkan dengan agenda tahunan yang konsisten, kurasi rute yang aman, promosi digital yang agresif, serta pelibatan masyarakat lokal sebagai pelaku utama.
“Kalau event ini dirawat dengan standar internasional, Danau Toba bisa menjadi salah satu ikon sport tourism Asia yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat Sumatera Utara,” ujar Tohom.
Ia juga menilai suksesnya penyelenggaraan Trail of The Kings Lake Toba - Indonesia sejalan dengan semangat pemerintahan Prabowo-Gibran dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, memperkuat pemerataan pembangunan, dan mengangkat potensi lokal ke panggung global.
“MARTABAT Prabowo-Gibran melihat Danau Toba sebagai aset strategis bangsa yang harus terus didorong menjadi pusat pertumbuhan baru berbasis pariwisata, budaya, olahraga, dan ekonomi rakyat,” kata Tohom.
Tohom berharap pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, pemerintah kabupaten sekitar Danau Toba, BUMN, swasta, komunitas olahraga, dan masyarakat adat dapat memperkuat kolaborasi agar event internasional serupa semakin banyak digelar di kawasan tersebut.
“Danau Toba punya lanskap, budaya, sejarah, dan energi masyarakat yang luar biasa, sehingga tugas kita adalah memastikan semua potensi itu dikelola profesional, inklusif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dengan suksesnya Trail of The Kings Lake Toba - Indonesia, MARTABAT Prabowo-Gibran menilai Sumatera Utara telah menunjukkan kapasitasnya sebagai tuan rumah event internasional sekaligus memperkuat posisi Danau Toba sebagai destinasi wisata olahraga unggulan Indonesia.
[Redaktur: Sobar Bahtiar]