Alasannya, jika terus ada desakan dan
semakin banyak rekahan yang muncul, maka patut diwaspadai arah runtuhnya
material Merapi.
"Rekahan itu mengindikasikan lemahnya
atau labilnya titik tersebut," ujarnya.
Baca Juga:
Usai Lebaran, Gubernur Jateng Minta ASN Tak Kendur Layani Masyarakat
Sejauh ini, potensi bahaya erupsi
berdasarkan pengukuran Electronic Distance Measurement (EDM) menunjuk ke arah barat-barat laut. Pengukuran
ini berdasarkan perubahan morfologi gunung.
Sedang bukaan kawah Merapi mengarah ke Kali Gendol atau arah bagian selatan dan tenggara, seolah menjadi
jalan yang sudah siap ketika muncul awan panas.
"Jadi ketika muncul awan panas, karena
bukaannya ke arah Kali Gendol, ya kemungkinan besar tetap ke arah
yang sudah ada jalannya itu, selatan dan tenggara," ujar Hanik.
Baca Juga:
Curah Hujan Tinggi Picu Banjir di Sumbar, Jabar, Jateng, hingga Jatim
Perkiraan arah awan panas ini setelah
BPPTKG mengkalkulasi bahwa jarak diameter kawah Merapi itu hanya 400 meter.
Kalau awan panas itu muncul, misalnya ke tengah atau sedikit ke barat, artinya
jarak luncurannya bakal hanya sekitar 300 meter dari bibir
kawahnya.
Hal ini berarti arah awan panas memang
sangat potensial ke arah Kali Gendol.