“Danau Toba harus dilihat sebagai satu ekosistem kawasan sehingga transportasi, pariwisata, investasi, lingkungan, dan pelayanan publik harus dirancang dalam satu arah pembangunan,” katanya.
Menurutnya, pendekatan aglomerasi dapat menghubungkan pusat-pusat wisata dengan kawasan produksi, sentra UMKM, pusat perdagangan, transportasi, serta destinasi pendukung di berbagai daerah sekitar Danau Toba.
Baca Juga:
KEK Mekar Putih Kalsel Dibidik Beroperasi Mulai 2027, MARTABAT Prabowo-Gibran: Momentum Bangun Mesin Ekonomi Baru
Dengan pola tersebut, manfaat pertumbuhan ekonomi dinilai dapat menyebar lebih luas dan tidak terkonsentrasi hanya pada titik-titik wisata utama.
Tohom juga mengingatkan bahwa percepatan investasi harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan karena kekuatan utama Danau Toba justru terletak pada kualitas alam dan ekosistemnya.
“Jangan sampai kita mengejar pertumbuhan ekonomi tetapi mengurangi nilai Danau Toba sebagai warisan alam yang harus dinikmati generasi berikutnya,” ujarnya.
Baca Juga:
Investasi KEK Tembus Rp32 Triliun, MARTABAT Prabowo-Gibran: Kepercayaan Investor Harus Berbuah Lapangan Kerja
Menurutnya, tata ruang, pengelolaan sampah, kualitas air, kapasitas lingkungan, serta pembangunan fasilitas pariwisata perlu menjadi bagian penting dalam kajian pengembangan KEK.
MARTABAT Prabowo-Gibran berharap kajian BI Sumatera Utara dan BRIN dapat menghasilkan peta jalan yang jelas mengenai bentuk KEK yang paling sesuai dengan karakter Danau Toba.
Tohom menilai keberhasilan pengembangan kawasan nantinya harus terlihat dari meningkatnya investasi, terbukanya lapangan kerja, tumbuhnya UMKM, meningkatnya pendapatan masyarakat, serta semakin kuatnya daya saing Sumatera Utara.