SUMUT.WAHANANEWS.CO — Praktik pencurian dan pengoplosan gas elpiji subsidi kembali terbongkar di Kabupaten Deli Serdang. Dua gudang beroperasi secara diam-diam ternyata milik seorang pria bermarga Sianturi. Modus operasinya sangat merugikan negara dan rakyat: tabung gas elpiji 3 kilogram subsidi dipindahkan isinya ke dalam tabung gas 12 kilogram non-subsidi untuk dijual kembali.
Berdasarkan hasil pantauan langsung di lapangan, tim WahanaNews.co mendatangi lokasi gudang yang berada di Jalan Industri, Tanjung Morawa. Di sana awak media bertemu dengan seorang pria berinisial J, yang kemudian memberikan nomor telepon seseorang yang mengaku bernama Baragas.
Baca Juga:
Sambut HUT Kemerdekaan RI Ke-81, Satlantas Polres Toba Bagi Sembako Kepada Warga Kurang Mampu
Tak berhenti di situ, tim WahanaNews.co kemudian memantau dan mengikuti pergerakan sebuah mobil box berwarna hitam. Mobil tersebut menuju ke Jalan Medan–Lubuk Pakam, tak jauh dari pusat perbelanjaan Suzuya. Yang sangat mencurigakan, terlihat tiga unit mobil pengangkut gas elpiji 3 kilogram dari tiga perusahaan berbeda yang masuk ke dalam kompleks gudang kedua tersebut. Dugaan kuat, di sanalah tempat berlangsungnya aktivitas pemindahan isi tabung gas subsidi ke tabung non-subsidi.
Untuk membuktikan kebenaran dugaan tersebut, tim WahanaNews.co mengonfirmasi langsung kepada Baragas via WhatsApp. Dengan terbuka Baragas mengakui bahwa gudang kedua yang berada di Jalan Medan–Lubuk Pakam itu memang tempat pengoplosan gas yang mereka kelola.
"Ya bang, masih kita itu bang," akui Baragas, Sabtu (15/8/2026).
Baca Juga:
Komisi III Tegaskan Tidak ada Surat Presiden Terkait Pergantian Kapolri
Saat ditanya siapa pemilik sebenarnya dari usaha pengoplosan gas tersebut, Baragas dengan tegas menyebut nama pemiliknya.
"Sianturi bang, kalau saya korlap-nya, dia (Sianturi) yang punya," ungkap Baragas tanpa menyembunyikan apa pun.
Artinya, jaringan mafia gas ini menguasai dua lokasi sekaligus: satu gudang berfungsi sebagai tempat penyimpanan tabung, dan satu gudang lagi sebagai tempat pengoplosan memindahkan isi gas subsidi ke tabung non-subsidi guna meraup keuntungan besar. Perbuatan ini jelas merugikan negara karena mengambil barang bersubsidi yang seharusnya diperuntukkan rakyat berpenghasilan rendah, lalu dikemas ulang dan dijual dengan harga lebih tinggi.