Tohom juga menyoroti bahwa Gerakan Indonesia ASRI relevan dengan tantangan utama kawasan Danau Toba saat ini, yakni pengelolaan sampah, tekanan lingkungan, dan konsistensi kebijakan antarwilayah.
Ia menilai, kawasan otorita membutuhkan standar bersama yang ditaati lintas kabupaten dan kota.
Baca Juga:
Penegakan Hukum Sampah Diperkuat, MARTABAT Prabowo-Gibran: Tata Kelola Wajib Berbenah Total
“Jika setiap daerah bergerak sendiri-sendiri, hasilnya tidak akan maksimal. Indonesia ASRI harus menjadi standar etika lingkungan di seluruh kawasan Danau Toba,” tegasnya.
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini menambahkan bahwa isu kebersihan tidak dapat dipisahkan dari daya dukung ekosistem dan keberlanjutan energi kawasan.
Ia mengingatkan bahwa pencemaran lingkungan akan berdampak langsung pada kualitas air, kesehatan masyarakat, hingga keberlangsungan pariwisata jangka panjang.
Baca Juga:
Hutang Pemkot Subulussalam menunggak puluhan miliar rupiah,rekanan segel tiga kantor SKPK di Subulussalam.
“Lingkungan yang rusak akan menciptakan biaya energi dan sosial yang jauh lebih mahal. Menjaga Danau Toba berarti menjaga sumber kehidupan, ekonomi lokal, dan masa depan kawasan otorita itu sendiri,” jelas Tohom.
Ia berharap Gerakan Indonesia ASRI dapat diinstitusionalisasi menjadi agenda rutin, bukan hanya di Parapat, tetapi di seluruh zona Danau Toba.
Menurutnya, konsistensi inilah yang akan memperkuat posisi Danau Toba sebagai destinasi unggulan nasional dan internasional, sejalan dengan visi besar pemerintahan Prabowo–Gibran.