Lebih jauh, Tohom menyebutkan bahwa rumah sakit baru di Dairi dapat menjadi simpul layanan kesehatan kawasan pegunungan barat Sumatera Utara, sekaligus mengurangi ketimpangan antarwilayah.
Ia melihat proyek ini sebagai investasi sosial jangka panjang yang akan menekan angka kematian akibat keterlambatan penanganan medis, mempercepat respons darurat, serta meningkatkan produktivitas masyarakat di kawasan KEK Kardaiba.
Baca Juga:
Kasus Korupsi Proyek Miliaran RS Pratama di Nias Barat: Kejari Gunungsitoli Tahan Kontraktor
Tohom yang juga Ketua Aglomerasi Watch ini mengingatkan bahwa pembangunan KEK harus dikelola dengan pendekatan aglomerasi yang utuh.
“KEK bukan hanya soal pabrik dan angka investasi. KEK adalah ruang hidup. Tanpa rumah sakit yang memadai, kawasan aglomerasi Karo–Dairi–Pakpak Bharat akan rapuh secara sosial dan kurang berkelanjutan secara ekonomi,” kata Tohom.
Ia mendorong agar pemerintah pusat dan daerah menjadikan proyek rumah sakit ini sebagai bagian dari desain besar pembangunan kawasan, bukan proyek sektoral yang berdiri sendiri.
Baca Juga:
Minta Dimandikan, Pasien Lecehkan Perawat hingga Dipenjara
MARTABAT Prabowo–Gibran berharap, dukungan APBN melalui Kementerian Kesehatan dapat mengakselerasi realisasi rumah sakit tersebut agar segera masuk prioritas nasional.
Menurut Tohom, keberhasilan KEK Kardaiba ke depan akan sangat ditentukan oleh keberanian negara mengintegrasikan pembangunan industri dengan layanan kesehatan yang adil, merata, dan berorientasi pada keselamatan rakyat.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]