“Danau Toba sebagai kawasan strategis nasional membutuhkan orkestrasi pembangunan yang rapi, mulai dari infrastruktur dasar, konektivitas, air bersih, sanitasi, UMKM, budaya, hingga kualitas sumber daya manusia,” ujar Tohom.
Menurutnya, kunjungan KASAD Maruli Simanjuntak juga memberi inspirasi bagi generasi muda Batak untuk percaya bahwa pendidikan, disiplin, dan kerja keras dapat membawa anak daerah menembus posisi penting di tingkat nasional.
Baca Juga:
LRT Jabodebek Tambah Frekuensi Perjalanan Pagi, MARTABAT Prabowo-Gibran: Bagian dari Visi Aglomerasi Modern
“Jenderal Maruli adalah contoh bahwa orang Batak bisa berkiprah besar di republik ini tanpa kehilangan akar budaya, hormat kepada leluhur, dan kepedulian kepada kampung halaman,” katanya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa pengembangan kawasan Danau Toba harus dilihat sebagai satu kesatuan aglomerasi sosial, budaya, ekonomi, dan pariwisata yang melibatkan kabupaten-kabupaten di sekitarnya.
“Danau Toba tidak bisa dibangun secara terpisah-pisah, karena Toba, Samosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Dairi, Karo, Simalungun, dan wilayah sekitarnya harus bergerak dalam satu napas pembangunan kawasan,” ujarnya.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Dorong Presiden Prabowo Tunjuk Menteri Eksekutor dan Komunikator Seperti "Luhutnya Pak Jokowi"
Ia menilai keberhasilan kawasan otorita Danau Toba tidak hanya diukur dari bertambahnya destinasi wisata, tetapi juga dari meningkatnya kesejahteraan masyarakat lokal.
“Pariwisata Danau Toba akan kuat jika masyarakatnya ikut naik kelas, desanya tertata, air bersih tersedia, rumah warga lebih layak, budaya hidup, dan anak-anak mudanya memiliki masa depan,” ucapnya.
Tohom berharap semangat yang dibawa KASAD melalui kegiatan sosial dan budaya di Bona Pasogit dapat menjadi pemantik kolaborasi yang lebih luas untuk mempercepat pembangunan kawasan Danau Toba.