WahanaNews-Sumut | Memperingati Hari Sumpah Pemuda, Bagas Godang Institute, bersama dengan KNPI serta HIPMI Padangsidimpuan dan organisasi mahasiswa dan kepemudaan, mengadakan diskusi publik tentang sejarah pergerakan pemuda Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel), jauh sebelum Indonesia merdeka hingga kemerdekaan.
Founder Bagas Godang Institute, Muhammad Iqbal Harahap MSi menuturkan, jauh pra kemerdekaan, banyak tokoh muda Tabagsel telah menjadi pionir, pendiri dan sebagai orang pertama yang memiliki karya di bidangnya. Namun kini, katanya, pergerakan pemuda Daerah Tabagsel ini seperti stagnan dan hanya bertahan di daerah. Untuk itu, perlu pengkajian ulang sejarah para tokoh bangsa yang berasal dari daerah ini.
Baca Juga:
PKS Sei Mangkei Konsestensi dalam menjalanknan Sistem Roundtable Sistenanable Palm Oil ( RSPO) dan Perketat Mutu TBS Pemasok Pihak 3 dari Segala Lini
“Kita pasti kenal Willem Iskander. Bapak Pendidikan Indonesia. Bahkan di Tahun 1800-an telah mendirikan sekolah guru untuk pribumi. Dia bahkan termasuk pribumi pertama yang bersekolah di Eropa. Masih banyak lagi tokoh lainnya dari Tabagsel yang berperan dalam pendirian Bangsa Indonesia,” ungkap Iqbal, Minggu (31/10/2021).
Narasumber sebagai pemantik dalam diskusi yang diikuti ratusan orang secara zoom dan puluhan lainnya secara langsung, ada Akhir Matua Harahap dan Baharuddin Aritonang.
Akhir Matua merupakan dosen di Universitas Indonesia yang mengggemari sejarah tokoh, daerah, peradaban ada asal usul di lima kabupaten kota di Tabagsel. Akhir Matua memiliki gudang tulisan sejarah yang bisa jadi referensi di blogspot pribadinya, akhirmh.blogspot.com , dengan sumber data primer, berbagai teks dan bahkan koran berbahasa Belanda.
Baca Juga:
Kronologi Lengkap: Jaket Ojol Rp300 Ribu Jadi Alat 'Viral' Tiga WNA di Bali
Membuka pembicaraan sejarah, Akhir Matua bercerita bila di Tahun 1854, dua anak afdeling Angkola-Mandailing, Asta dan Angan telah menginjakkan kaki di Pulau Jawa dan menjadi mahasiswa kedokteran pertama dari luar pulau Jawa, di sekolah kedokteran yang didirikan pada tahun 1851, yang kelak berubah nama dan dikenal sebagai STOVIA. Lulus sekolah kedokteran, keduanya kemudian mengabdi di Angkola dan Mandailing.
Berselang 11 Tahun, tepatnya di Tahun 1862. Sutan Sati Iskandar atau kini dikenal sebagai Willem Iskander, telah mendirikan Kweekschool Tanobato, sekolah guru untuk pribumi. Dengan bantuan Asisten Residen, bernama Godon.
Di antara tahun itu, banyak perubahan administrasi dan pusat pemerintahan Hindia Belanda. Dan pada tahun 1879, sekolah guru terbaik se Hinda Belanda itu dipindah ke Padangsidimpuan, kota yang baru dibangun sebagai pusat Asisten Residen yang membawahi Angkola-Mandailing dan beberapa daerah lainnya.