Sumut.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran merespons positif penguatan hubungan ekonomi antara India dan Indonesia, khususnya di Sumatera Utara, seiring kunjungan resmi Konsul Jenderal India di Medan ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei.
Kunjungan tersebut dinilai sebagai langkah strategis dalam memperluas kerja sama investasi dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Baca Juga:
BEI Delisting 18 Emiten, Sinyal Keras Bersih-bersih Pasar Modal
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menilai kunjungan itu merupakan sinyal kuat meningkatnya kepercayaan investor asing terhadap Indonesia.
“Ini adalah momentum penting yang menunjukkan bahwa Sumatera Utara, khususnya KEK Sei Mangkei, sudah berada di radar global sebagai pusat industri masa depan,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).
Tohom menjelaskan, ketertarikan investor India terhadap sektor manufaktur dan hilirisasi di KEK Sei Mangkei mencerminkan keberhasilan kebijakan industrialisasi yang selama ini didorong pemerintah.
Baca Juga:
Tiap Tahun Boncos Rp1,8 Triliun, WIKA Tersandera Proyek Whoosh
Menurutnya, hilirisasi bukan hanya soal meningkatkan nilai tambah, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi nasional.
“Kita tidak lagi hanya mengekspor bahan mentah, tetapi mulai mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi. Ini yang membuat investor seperti India melihat Indonesia sebagai mitra strategis, bukan sekadar pasar,” katanya.
Ia juga menyoroti keberadaan sejumlah perusahaan India yang telah beroperasi di kawasan tersebut sebagai bukti konkret bahwa iklim investasi di Sumatera Utara semakin kompetitif.
Hal ini, lanjutnya, harus dijaga dengan kepastian regulasi dan dukungan infrastruktur yang berkelanjutan.
“Ini sudah terbukti, perusahaan India masuk dan berkembang. Artinya, ada kepercayaan. Tinggal bagaimana pemerintah daerah dan pusat menjaga konsistensi kebijakan agar arus investasi ini tidak terhambat,” tambahnya.
Lebih jauh, Tohom melihat KEK Sei Mangkei berpotensi menjadi simpul penting dalam jaringan industri global, terutama di sektor berbasis sumber daya alam. Ia menilai kerja sama dengan India dapat membuka akses pasar yang lebih luas sekaligus transfer teknologi yang dibutuhkan Indonesia.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa pengembangan kawasan industri seperti Sei Mangkei harus terintegrasi dengan konsep aglomerasi ekonomi agar dampaknya lebih luas.
“Kalau hanya berdiri sendiri, dampaknya terbatas. Tapi kalau terhubung dengan kawasan lain, pelabuhan, dan pusat logistik, maka efek bergandanya akan sangat besar bagi perekonomian daerah,” jelasnya.
Ia menambahkan, kolaborasi Indonesia–India ke depan tidak hanya soal investasi, tetapi juga pertukaran pengetahuan, peningkatan kualitas SDM, serta penguatan jaringan produksi regional.
“Ini peluang besar. Kalau dikelola dengan visi jangka panjang, Sumatera Utara bisa menjadi gerbang industri baru di barat Indonesia yang terhubung langsung dengan pasar internasional,” tutupnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]