Hal ini, lanjutnya, harus dijaga dengan kepastian regulasi dan dukungan infrastruktur yang berkelanjutan.
“Ini sudah terbukti, perusahaan India masuk dan berkembang. Artinya, ada kepercayaan. Tinggal bagaimana pemerintah daerah dan pusat menjaga konsistensi kebijakan agar arus investasi ini tidak terhambat,” tambahnya.
Baca Juga:
BEI Delisting 18 Emiten, Sinyal Keras Bersih-bersih Pasar Modal
Lebih jauh, Tohom melihat KEK Sei Mangkei berpotensi menjadi simpul penting dalam jaringan industri global, terutama di sektor berbasis sumber daya alam. Ia menilai kerja sama dengan India dapat membuka akses pasar yang lebih luas sekaligus transfer teknologi yang dibutuhkan Indonesia.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa pengembangan kawasan industri seperti Sei Mangkei harus terintegrasi dengan konsep aglomerasi ekonomi agar dampaknya lebih luas.
“Kalau hanya berdiri sendiri, dampaknya terbatas. Tapi kalau terhubung dengan kawasan lain, pelabuhan, dan pusat logistik, maka efek bergandanya akan sangat besar bagi perekonomian daerah,” jelasnya.
Baca Juga:
Tiap Tahun Boncos Rp1,8 Triliun, WIKA Tersandera Proyek Whoosh
Ia menambahkan, kolaborasi Indonesia–India ke depan tidak hanya soal investasi, tetapi juga pertukaran pengetahuan, peningkatan kualitas SDM, serta penguatan jaringan produksi regional.
“Ini peluang besar. Kalau dikelola dengan visi jangka panjang, Sumatera Utara bisa menjadi gerbang industri baru di barat Indonesia yang terhubung langsung dengan pasar internasional,” tutupnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]