SUMUT.WAHANANEWS.CO - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan beberapa hari terakhir, sebagian besar wilayah Sumatera Utara dilanda hujan dengan intensitas bervariasi dari ringan hingga lebat. Kondisi ini disebabkan oleh konvergensi dan belokan angin akibat adanya sirkulasi siklonik (eddy) di Perairan Kalimantan serta Samudera Hindia barat Aceh, ditambah sistem tekanan rendah di Samudera Hindia barat daya Pulau Sumatera. Hal tersebut menyebabkan perlambatan dan penumpukan massa udara di wilayah tersebut.
Berdasarkan data pengamatan resmi BMKG, curah hujan kategori lebat hingga sangat lebat tercatat di beberapa titik:
Baca Juga:
PLN Batam Salurkan Bantuan Kemanusiaan Tahap 2 untuk Korban Banjir di Sumatera
- Pos Hujan Teluk Dalam: 365,8 mm
- Pos Hujan Hutabalang: 89 mm (11 Februari 2026)
- Pos Hujan Otomatis (ARG) Kota Pinang: 100,2 mm (13 Februari 2026)
- Stasiun Meteorologi Kuala Namu: 105,8 mm (15 Februari 2026)
Analisis Atmosfer dan Potensi Hujan Mendatang
Analisis dinamika atmosfer menunjukkan adanya belokan angin (shearline) dan konvergensi angin di sekitar pantai barat dan timur Sumatera Utara. Anomali suhu muka laut yang relatif hangat serta labilitas atmosfer yang cukup kuat juga mendukung pertumbuhan awan konvektif.
Baca Juga:
Pemerintah Cabut Izin, Perusahaan Klaim Belum Terima Keputusan Resmi
Berdasarkan kondisi tersebut, wilayah Sumatera Utara berpotensi masih mengalami hujan ringan hingga lebat. Wilayah yang diprakirakan berpotensi hujan sedang hingga lebat antara lain Kabupaten Langkat, Deli Serdang, Kota Medan, Karo, Dairi, Pakpak Bharat, Humbang Hasundutan, Kota Binjai, Kota Padang Sidempuan, Kota Sibolga, Toba, Asahan, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Mandailing Natal, Kepulauan Nias, dan Kabupaten Labuhanbatu Utara.
Imbauan BMKG untuk Masyarakat dan Pemerintah Daerah
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah antisipatif agar aktivitas sehari-hari berjalan aman dan lancar. Masyarakat diharapkan selalu merujuk pada informasi cuaca resmi dari BMKG dan tidak mudah mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.