Sumut.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran merespons positif dialog interaktif yang digelar Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) bersama mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) dan Ikatan Mahasiswa Batak Nasional (IMAIBANA).
Kegiatan tersebut dinilai sebagai sinyal kuat bahwa pembangunan pariwisata Danau Toba mulai bergerak ke arah yang lebih partisipatif, terbuka, dan berorientasi jangka panjang.
Baca Juga:
Tinjau Lapangan, Wabup Toba Temukan Penyebab Banjir Kota Balige
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menilai dialog publik bukan forum diskusi saja, tetapi juga ruang strategis untuk menyatukan perspektif negara, akademisi, dan generasi muda dalam membangun Danau Toba sebagai destinasi kelas dunia.
“Danau Toba tidak bisa lagi diperlakukan sebagai proyek biasa. Ini adalah etalase peradaban, wajah Indonesia di mata global. Apa yang dilakukan BPODT dengan membuka dialog bersama mahasiswa adalah langkah visioner yang patut diperluas,” ujar Tohom, Minggu (1/2/2026).
Menurut Tohom, keterlibatan mahasiswa menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata tidak hanya bertumpu pada infrastruktur dan investasi, tetapi juga pada kesadaran kolektif serta kualitas sumber daya manusia.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Nilai Ramainya Transportasi Air Danau Toba sebagai Sinyal Kuat Pariwisata Berbasis Konektivitas
Ia menilai, tanpa partisipasi generasi muda, pembangunan berisiko kehilangan relevansi sosial dan keberlanjutan lingkungan.
Tohom juga mengapresiasi dorongan BPODT untuk memperkuat promosi internasional melalui event berskala global.
Ia menyebut keberhasilan Aquabike Jetski World Championship dan F1 Powerboat Lake Toba sebagai bukti bahwa Danau Toba memiliki daya tarik yang mampu bersaing di level dunia.
“Event internasional itu bukan sekadar tontonan. Ia adalah pintu masuk investasi, promosi budaya, dan penciptaan lapangan kerja. Tantangannya sekarang adalah konsistensi dan keberanian untuk membuat agenda besar yang berkelanjutan,” kata Tohom.
Ia menambahkan bahwa persoalan lingkungan, termasuk peringatan kartu kuning UNESCO terhadap Geopark Kaldera Toba, harus dijadikan momentum evaluasi, bukan hambatan.
Menurutnya, pariwisata masa depan adalah pariwisata yang berakar pada konservasi dan tata kelola yang disiplin.
Tohom yang juga Ketua Aglomerasi Watch ini mengungkapkan bahwa Danau Toba harus dipandang sebagai satu kesatuan ekosistem kawasan, bukan terfragmentasi oleh batas administrasi.
“Aglomerasi Danau Toba membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas daerah. Transportasi, tata ruang, lingkungan, hingga promosi harus berjalan serempak. Tanpa itu, kita hanya akan berjalan cepat, tapi tidak jauh,” ujarnya.
Ia juga memandang penandatanganan nota kesepahaman antara UKI, BPODT, dan IMAIBANA sebagai langkah konkret dalam menyiapkan SDM pariwisata yang adaptif dan berdaya saing global.
Peran kampus, menurut Tohom, sangat vital dalam menjembatani teori, riset, dan praktik pembangunan di lapangan.
“Kalau Danau Toba ingin naik kelas, maka manusianya juga harus naik kelas. Pendidikan, riset terapan, dan keberpihakan pada masyarakat lokal adalah kunci agar pariwisata memberi dampak nyata,” katanya.
Tohom menegaskan, MARTABAT Prabowo-Gibran terus mendorong sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan generasi muda agar Danau Toba benar-benar menjadi simbol kemajuan Indonesia yang inklusif, berkelanjutan, dan membanggakan.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]