Evyap Life Chemistry saat ini melayani lebih dari 600 pelanggan di 55 negara dengan dukungan tiga fasilitas produksi yang memiliki kapasitas gabungan mencapai 650.000 ton per tahun.
Menurut Tohom, jaringan pasar internasional tersebut dapat menjadi keuntungan strategis karena produk yang diproses di Indonesia memperoleh akses lebih luas menuju rantai pasok global.
Baca Juga:
Hampir 10 Tahun Berjalan, MARTABAT Prabowo-Gibran: KEK Tanjung Kelayang Butuh Terobosan Baru
“Kalau bahan bakunya berasal dari Indonesia, diproses menjadi produk bernilai tambah di Indonesia, menyerap tenaga kerja Indonesia, kemudian diekspor ke puluhan negara, maka nilai ekonomi yang tinggal di dalam negeri akan semakin besar,” ujarnya.
Hingga Triwulan I-2026, KEK Sei Mangkei telah membukukan investasi kumulatif Rp31,8 triliun dan menciptakan 14.689 lapangan kerja.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa perkembangan KEK Sei Mangkei menunjukkan pentingnya membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar kawasan industri yang selama ini terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Baca Juga:
Program SNOWI di Bali Tuai Apresiasi, MARTABAT Prabowo-Gibran: Bukti Ekonomi Sirkular Bisa Dimulai dari Desa
“Indonesia membutuhkan lebih banyak kutub pertumbuhan baru agar industrialisasi tidak berhenti di wilayah tertentu, tetapi menyebarkan investasi, pekerjaan, infrastruktur, dan aktivitas ekonomi ke berbagai daerah,” kata Tohom.
Ia menilai posisi KEK Sei Mangkei yang berada dekat koridor Selat Malaka memberikan keunggulan besar untuk dikembangkan sebagai basis manufaktur berorientasi ekspor.
“Selat Malaka adalah salah satu jalur perdagangan paling strategis di dunia sehingga kawasan industri di sekitarnya harus mampu menangkap arus perdagangan tersebut menjadi investasi, industri, ekspor, dan kesempatan kerja bagi Indonesia,” ujarnya.