Tohom juga melihat keberadaan layanan terintegrasi, konektivitas logistik, insentif investasi, serta dukungan energi biomassa dan biogas menjadi modal penting untuk meningkatkan daya saing KEK Sei Mangkei.
Menurutnya, persaingan menarik investasi saat ini tidak hanya ditentukan oleh insentif fiskal, tetapi juga kecepatan perizinan, kepastian hukum, ketersediaan energi, konektivitas logistik, produktivitas tenaga kerja, dan konsistensi kebijakan.
Baca Juga:
Hampir 10 Tahun Berjalan, MARTABAT Prabowo-Gibran: KEK Tanjung Kelayang Butuh Terobosan Baru
“Investor global mempunyai banyak pilihan negara sehingga Indonesia harus membuat keputusan menanam modal di sini menjadi keputusan bisnis yang paling rasional dan menguntungkan,” kata Tohom.
Ia berpandangan investasi Evyap juga harus menjadi pintu masuk bagi semakin besarnya keterlibatan perusahaan nasional dan UMKM sebagai bagian dari rantai pasok industri.
“Target akhirnya bukan hanya menghadirkan pabrik asing di Indonesia, tetapi membangun ekosistem industri nasional yang membuat perusahaan lokal tumbuh, tenaga kerja naik kelas, teknologi berkembang, dan ekspor bernilai tambah semakin besar,” ujarnya.
Baca Juga:
Program SNOWI di Bali Tuai Apresiasi, MARTABAT Prabowo-Gibran: Bukti Ekonomi Sirkular Bisa Dimulai dari Desa
MARTABAT Prabowo-Gibran memandang keberhasilan menarik investasi manufaktur berbasis hilirisasi perlu terus diperluas ke berbagai KEK agar pembangunan industri sekaligus menjadi instrumen pemerataan ekonomi nasional.
“Kalau hilirisasi, investasi, industrialisasi, dan pemerataan wilayah berjalan dalam satu arah, Indonesia tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi sedang membangun fondasi untuk menjadi kekuatan industri yang semakin diperhitungkan dunia,” pungkas Tohom.
[Redaktur: Sandy]