Dengan penguatan kawasan ekonomi khusus di luar Jawa, pemerataan pembangunan dapat bergerak lebih nyata dan memberi ruang lebih luas bagi daerah untuk menjadi pusat pertumbuhan baru.
“Indonesia membutuhkan pusat-pusat industri baru yang kuat di berbagai wilayah. KEK Sei Mangkei punya peluang besar menjadi etalase hilirisasi sawit nasional, sekaligus contoh bagaimana daerah bisa naik kelas melalui industrialisasi yang terencana,” ujarnya.
Baca Juga:
Pemanggilan Awak Media untuk Hak Jawab Berujung Batal, PT HK Sis Dinilai Anti Kritik dan Bungkam Wartawan
Tohom juga mengingatkan pentingnya tata kelola hilirisasi yang transparan, berkelanjutan, dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat lokal.
Ia mengatakan, keberhasilan hilirisasi tidak hanya diukur dari kapasitas produksi, tetapi juga dari serapan tenaga kerja, kemitraan dengan UMKM, keterlibatan petani, dampak terhadap ekonomi daerah, dan komitmen terhadap lingkungan.
“Hilirisasi harus menghadirkan keadilan ekonomi. Industri besar harus tumbuh bersama petani, pekerja, UMKM, dan masyarakat sekitar. Dengan begitu, KEK Sei Mangkei tidak hanya menjadi kawasan produksi, tetapi juga pusat pertumbuhan kesejahteraan,” ucapnya.
Baca Juga:
Hinca Panjaitan: FWLB Rumahela ke-IX 2026 Akan Digelar
Sebelumnya, Direktur Utama PT Kawasan Industri Nusantara atau KEK Sei Mangkei, Arif Budiman mengatakan proyek hilirisasi melalui Danantara juga menyentuh KEK Sei Mangkei.
Melalui PTPN IV PalmCo, kawasan tersebut membangun pabrik Oleofood untuk memproduksi margarin dan shortening berkapasitas 35.000 ton per tahun sebagai bagian dari hilirisasi sawit atau CPO, serta pengembangan biodiesel 450 ribu ton per tahun.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]