Tohom menambahkan, tingginya lalu lintas penyeberangan di Ajibata, terutama saat event internasional seperti F1 Powerboat dan Aquabike, memperlihatkan peran strategis pelabuhan tersebut dalam ekosistem pariwisata Danau Toba.
Namun, ia mengingatkan agar pembangunan tidak berhenti pada aspek event oriented semata.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Nilai Ramainya Transportasi Air Danau Toba sebagai Sinyal Kuat Pariwisata Berbasis Konektivitas
“Kawasan Danau Toba tidak boleh hanya ramai saat ada agenda besar. Yang lebih penting adalah keberlanjutan ekonomi warga, keteraturan sosial, dan kualitas lingkungan dalam jangka panjang,” katanya.
Lebih jauh, Tohom menyoroti dinamika sosial yang tumbuh di sekitar Pelabuhan Ajibata sebagai cermin tantangan nyata kawasan otorita.
Ruang publik yang hidup, bertemunya wisatawan dan warga lokal, hingga fenomena sosial yang muncul, menurutnya harus dibaca sebagai bahan evaluasi kebijakan.
Baca Juga:
Tarkam Kemenpora 2025 di Toba, Ajang Sportifitas dan Persaudaraan Antar Kampung
“Ini bukti bahwa pembangunan selalu membawa konsekuensi sosial. Otorita Danau Toba harus hadir bukan hanya sebagai pengelola aset, tetapi sebagai pengatur keseimbangan sosial dan ekonomi,” ucapnya.
Tohom Purba yang juga Ketua Aglomerasi Watch ini menegaskan bahwa pengembangan Danau Toba harus ditempatkan dalam kerangka aglomerasi kawasan yang saling terhubung.
Ia menilai masih ada persoalan koordinasi antarwilayah, tumpang tindih kewenangan, serta ketimpangan manfaat yang dirasakan masyarakat sekitar danau.