Tohom mengatakan kehadiran pemerintah pusat dalam pagelaran tersebut menjadi sinyal positif bagi pengembangan seni budaya dan ekonomi kreatif di kawasan Danau Toba.
“Dukungan pemerintah perlu diterjemahkan menjadi program nyata berupa infrastruktur pertunjukan, pelatihan seniman, promosi internasional, pendanaan kreatif, dan kalender budaya tahunan,” ucapnya.
Baca Juga:
KEK Sei Mangkei Jadi Hub Global Unilever, MARTABAT Prabowo-Gibran: Indonesia Makin Dilirik Investor Dunia
Menurutnya, opera house di Danau Toba harus dirancang sebagai pusat kebudayaan yang tetap menampilkan karakter arsitektur, filosofi, dan kearifan lokal masyarakat Batak.
“Bangunannya harus menjadi identitas kawasan, bukan gedung biasa yang bisa ditemukan di tempat lain,” katanya.
Tohom memandang opera house juga dapat dihubungkan dengan pengembangan desa wisata, hotel, transportasi, kuliner, kerajinan, dan berbagai produk ekonomi kreatif lokal.
Baca Juga:
Pembentukan 6 KEK Baru Menunggu PP, MARTABAT Prabowo-Gibran: Investasi Harus Berdampak ke Rakyat
“Setiap pertunjukan akan menciptakan perputaran ekonomi karena wisatawan membutuhkan penginapan, makanan, transportasi, cendera mata, dan layanan pendukung lainnya,” ujarnya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa pembangunan pusat seni harus dirancang sebagai bagian dari penataan kawasan Danau Toba secara terpadu.
“Opera house perlu memiliki akses transportasi yang baik dan terhubung dengan berbagai destinasi di sekitar Danau Toba agar manfaat ekonominya menyebar ke banyak kabupaten,” tuturnya.