Ia menilai kolaborasi antardaerah sangat diperlukan karena Danau Toba merupakan satu kesatuan wilayah budaya, ekonomi, dan pariwisata yang tidak dapat dikembangkan secara terpisah.
“Pemerintah kabupaten di kawasan Danau Toba harus menyusun agenda bersama agar pertunjukan seni, festival, promosi wisata, dan kegiatan UMKM tidak berjalan sendiri-sendiri,” katanya.
Baca Juga:
KEK Sei Mangkei Jadi Hub Global Unilever, MARTABAT Prabowo-Gibran: Indonesia Makin Dilirik Investor Dunia
Tohom juga mendukung pandangan Lamhot Sinaga bahwa Opera Batak merupakan aset budaya yang harus diselamatkan dari ancaman kepunahan setelah semakin jarang dipentaskan selama lebih dari empat dekade.
“Apabila tidak disiapkan panggung, pembinaan, dokumentasi, dan regenerasi, kita berisiko kehilangan salah satu kekayaan budaya yang sangat berharga,” ujarnya.
Ia menyambut pernyataan Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengenai perlunya kolaborasi pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, seniman, dan UMKM untuk meningkatkan kesejahteraan melalui ekonomi kreatif.
Baca Juga:
Pembentukan 6 KEK Baru Menunggu PP, MARTABAT Prabowo-Gibran: Investasi Harus Berdampak ke Rakyat
“Kolaborasi adalah kunci, karena budaya hanya akan hidup apabila masyarakat menjadi pelaku utama dan pemerintah menyediakan kebijakan serta fasilitas yang mendukung,” katanya.
MARTABAT Prabowo-Gibran berharap gagasan pembangunan opera house di Danau Toba dapat masuk dalam perencanaan pembangunan nasional dan daerah agar tidak berhenti sebagai wacana.
“Opera house dapat menjadi simbol kebangkitan budaya Batak sekaligus pusat ekonomi kreatif yang membawa Danau Toba semakin dikenal di panggung nasional dan dunia,” tutup Tohom.