Ia mengingatkan, tanpa perencanaan aglomerasi yang matang, lonjakan akses justru berpotensi memicu urban sprawl, tekanan lahan, dan ketimpangan baru di sekitar Danau Toba.
“Tol ini harus diikuti dengan kebijakan tata ruang, transportasi publik pengumpan, serta penguatan pusat-pusat ekonomi lokal agar manfaatnya berimbang,” tegas Tohom.
Baca Juga:
Kuatkan Fondasi Ekologis Danau Toba, MARTABAT Prabowo-Gibran Dukung Langkah Inalum dan Pembangunan Hijau
Ia juga menyoroti peran strategis Tol Sinaksak–Simpang Panei dalam mengurai kepadatan lalu lintas di Pematang Siantar.
Menurutnya, distribusi arus kendaraan yang lebih merata akan meningkatkan efisiensi sistem transportasi regional sekaligus memperkuat fungsi kota-kota menengah sebagai simpul aglomerasi Danau Toba.
Tohom menilai keberhasilan Hamawas meraih SLFO bintang 5 menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur nasional mulai bergerak ke arah kualitas dan keberlanjutan layanan.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Apresiasi Pemerintah yang Jadikan IKN Superhub Ekonomi Baru di Indonesia
"Standar keselamatan, kelengkapan fasilitas, hingga sistem pengawasan dinilai krusial untuk menjaga kepercayaan publik, terutama menjelang lonjakan mobilitas pada libur Lebaran Idul Fitri 2026," ujarnya.
MARTABAT Prabowo-Gibran optimis, dengan beroperasinya penuh Tol Kutepat, kawasan Otorita Danau Toba akan semakin siap menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis pariwisata, logistik, dan jasa.
"Konsistensi pengelolaan aglomerasi menjadi kunci agar infrastruktur ini benar-benar menjadi pengungkit kesejahteraan jangka panjang bagi masyarakat Sumatra Utara," pungkasnya.