Jenis mobil yang sering digunakan menurut Frisdarwin antara lain Fortuner, Innova Reborn, Innova Barong, Pajero dan lain lain. "Secara kasat mata, mobil-mobil ini tidak terlihat mencurigakan, sehingga pihak kepolisian perlu lebih jeli dalam mengawasinya," imbuh Frisdarwin.
Modus Lain: Ganti Plat dan Barcode yang Diduga Sesuai terlampir di Sistem
Baca Juga:
BPBD Kota Gunungsitoli Sosialisasi Penanggulangan Bencana di Pertamina dan Bagikan Tali Asih ke YPKB
Selain modifikasi mobil, pelangsir juga kerap mengganti plat nomor dan barcode sebelum masuk ke SPBU kembali. "Yang uniknya, semua plat dan barcode tersebut diduga sesuai dengan data yang tercatat dalam sistem, sehingga pihak SPBU tetap melayani pengisian solar subsidi," terangnya.
Hal ini menjadi tantangan bagi Pertamina untuk melakukan tindak lanjut, serta tugas kepolisian untuk mengungkap modus kejahatan yang telah merugikan negara.
"Ingat, pihak kepolisian memiliki lengkap bagian bagian tugasnya, kerahkan petugas petugas nya, saya yakin para mafia solar dipastikan tak berkutik, jangan sampai hanya formalitas saja," ucapnya.
Baca Juga:
Diburu Internasional, Red Notice Interpol Terhadap Riza Chalid Resmi Terbit
LSM Minta Pihak Kepolisian dan Pertamina Lebih Tegas
Frisdarwin berharap pihak kepolisian dapat lebih memperhatikan kasus penyalahgunaan solar subsidi ini. "Masyarakat masih banyak yang membutuhkan solar subsidi, jangan sampai kedepannya dikuasai oleh mafia solar atau kelompok tertentu untuk keuntungan pribadi," pinta dia.
Kepada Pertamina, ia menegaskan agar menunjukkan ketegasan terhadap SPBU yang ditemukan ada indikasi kecurangan. "Jika terbukti ada mobil yang gonta ganti plat dan barcode walaupun katanya platnya sesuai terlampir di sistem dan dengan supir yang sama serta total pengisiannya melebihi kapasitas tangki standar, sudah jelas itu adalah pelangsir, uda ada baby tank nya itu, tindak tegas SPBU nya, kalau tidak ada tindakan yang tegas ada apa Pertamina dengan SPBU tersebut,?" tegasnya menutup pembicaraan.