Ia menyebut data dan peta digital sebaran kemenyan yang sedang disiapkan pemerintah sebagai langkah positif, namun mengingatkan agar pembangunan tidak boleh mengabaikan aspek perlindungan lingkungan dan hak-hak adat.
“Peta digital itu penting, tapi harus dipastikan digunakan bukan hanya untuk investasi, melainkan juga untuk perlindungan ekosistem dan komunitas adat. Jangan sampai pohon kemenyan yang ratusan tahun dijaga masyarakat justru jadi korban eksploitasi atas nama pembangunan,” kata Tohom.
Baca Juga:
HUT Ke-499 Jakarta Buka Akses Publik, MARTABAT Prabowo-Gibran: Jabodetabekjur Butuh Konektivitas Berkeadilan
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan hilirisasi akan bergantung pada pelibatan aktif masyarakat lokal sejak awal.
“Tanpa partisipasi rakyat, semua rencana tinggal jadi dokumen. Yang kita butuhkan adalah model hilirisasi partisipatif, berbasis komunitas, dan dikelola bersama,” tandasnya.
Sebelumnya, Luhut Binsar Pandjaitan menyebut bahwa ekspor kemenyan Indonesia telah mencapai pasar Asia dan Eropa.
Baca Juga:
Tim Anggar Jambi Raih Empat Medali Perunggu di Kejurnas Piala RDPS Cup 2026 Palembang
Namun, ia menyoroti rendahnya harga jual di tingkat petani dan menyatakan niat untuk mendorong hilirisasi melalui skema berbasis komunitas.
“Kami tidak perlu pabrik besar, cukup teknologi distilasi uap yang efisien dan bisa dijalankan komunitas lokal,” ujarnya, melalui media sosial.
[Redaktur: Sobar Bahtiar]