Ia menyebut data dan peta digital sebaran kemenyan yang sedang disiapkan pemerintah sebagai langkah positif, namun mengingatkan agar pembangunan tidak boleh mengabaikan aspek perlindungan lingkungan dan hak-hak adat.
“Peta digital itu penting, tapi harus dipastikan digunakan bukan hanya untuk investasi, melainkan juga untuk perlindungan ekosistem dan komunitas adat. Jangan sampai pohon kemenyan yang ratusan tahun dijaga masyarakat justru jadi korban eksploitasi atas nama pembangunan,” kata Tohom.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Apresiasi Pemerintah yang Jadikan IKN Superhub Ekonomi Baru di Indonesia
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan hilirisasi akan bergantung pada pelibatan aktif masyarakat lokal sejak awal.
“Tanpa partisipasi rakyat, semua rencana tinggal jadi dokumen. Yang kita butuhkan adalah model hilirisasi partisipatif, berbasis komunitas, dan dikelola bersama,” tandasnya.
Sebelumnya, Luhut Binsar Pandjaitan menyebut bahwa ekspor kemenyan Indonesia telah mencapai pasar Asia dan Eropa.
Baca Juga:
Kemacetan Jabodetabekjur, MARTABAT Prabowo–Gibran Desak Reformasi Transportasi Publik Terintegrasi
Namun, ia menyoroti rendahnya harga jual di tingkat petani dan menyatakan niat untuk mendorong hilirisasi melalui skema berbasis komunitas.
“Kami tidak perlu pabrik besar, cukup teknologi distilasi uap yang efisien dan bisa dijalankan komunitas lokal,” ujarnya, melalui media sosial.
[Redaktur: Sobar Bahtiar]