“Danau Toba tidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus terkoneksi dengan pusat-pusat pertumbuhan lain melalui sistem transportasi, logistik, dan layanan imigrasi yang efisien,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kebijakan yang diambil saat ini akan menentukan posisi Danau Toba dalam peta pariwisata global dalam jangka panjang. Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah dan pusat, kawasan ini dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi hub pariwisata unggulan di Asia Tenggara.
Baca Juga:
Opera Batak Perlu Diselamatkan, MARTABAT Prabowo-Gibran: Danau Toba Layak Punya Pusat Seni Dunia
Tohom juga melihat bahwa peran Imigrasi menjadi semakin strategis dalam menciptakan ekosistem yang ramah bagi wisatawan dan investor, tanpa mengabaikan aspek pengawasan. Dengan pendekatan yang adaptif, layanan keimigrasian dapat menjadi instrumen penting dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.
Sebelumnya, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Sumatera Utara, Parlindungan, melakukan audiensi dengan Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution di Medan.
Mereka membahas berbagai isu strategis mulai dari penanganan pengungsi, pengelolaan aset, hingga optimalisasi masuknya wisatawan dan investor, termasuk kesiapan Bandara Silangit untuk kembali beroperasi sebagai bandara internasional guna mendukung pengembangan kawasan Danau Toba.
Baca Juga:
Ilham Permana: Ukur Keberhasilan Pariwisata dari Nilai Ekonomi, Bukan Jumlah Wisatawan
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]